KHUTBAH MENYAMBUT ROMADHON
KHUTBAH MENYAMBUT ROMADHON
اَلْحَمْدُ
للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ
الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ
عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ
أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا
بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ
الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ
ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت: ٣٠
Maasyirol hadirin rhk
Marilha kita tingkatkan ketqwaan kita kepada Allah sssssswt dengan
senantiasa menjalankan peruntah Allah danMenjauhi laranganNya,
Ketakwaan
sendiri merupakan tujuan sekaligus buah dari pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan
yang
sebentar lagi kita akan laksanakan. Allah subhanahu wa
ta’ala berfirman dalam QS Al-Baqarah: 183:
$ygr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã úïÏ%©!$# `ÏB öNà6Î=ö7s% öNä3ª=yès9 tbqà)Gs? ÇÊÑÌÈ
183. Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa,
Di antara sekian banyak sebutan untuk Ramadhan,
salah satunya adalah bulan pendidikan atau syahrut tarbiyah. Para ulama
menyebut Ramadhan sebagai syahrut tarbiyah karena begitu banyak hikmah nilai-nilai pendidikan
yang dikandungnya.
BAGAIMANA CARA TERBAIK MENJUMPAI ROMADHON YA?
Perjumpaan kita dengan Romadhon adalah perjumpaan Ruhani. Bila
Ruhani tak diusahakan jernih, maka perjumpaan itu hakikatnya tidak akan
terjadi. Setidaknya tak bisa dirasai.
Dawuh kanjeng Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wasallam.
Soal peristiwa dahsyat pada malam pertama Romadhon. Nyatanya, bila
cuma diindera dengan mata dan telinga, ternyata tidak terjadi apa-apa.
Yang di Supermarket ya cuma melihat kornet, sayur, dan aneka
kebutuhan rumah tangga. Yang di depan TV, ya melihat tayangan di TV. Yang
terjebak macet di jalan, ya cuma melihat kendaraan berjejalan. Yang sibuk
dengan dunianya, ya melihat dunia yang mengasyikkan atau melelahkan.
Padahal di sebuah dimensi atau alam atau majaz yang hanya Alloh
Yang Maha Tahu. Saat kumandang Adzan maghrib tanggal 1 Romadhon, peristiwa
dahsyat dan akbar sedang digelar.
Amat disayangkan. Bila Ruhani gagal menyaksikan peristiwa itu.
Yang karena gagal menyaksikan dan merasakannya, di moment
kesyahduan Adzan Maghrib malam pertama itu, tidak ada sujud panjang penanda
syukur. Tidak ada linang air mata haru dan bahagia. Tidak ada khusyuk. Tidak
ada celupan dalam hati yang beraduk aduk antara harapan dan kecemasan.
Padahal...
Bila usia berhasil disampaikan ke bulan Romadhon. Tak main-main.
Derajat dinaikkan. Dosa dibersihkan sebersih bersihnya. Yang sudah beberapa
langkah ke Neraka, ditarik lagi ke dekat pintu Surga.
Padahal...
Malam pertama itu istimewa.
Kalau mau sungguh-sungguh dalam diam dan tafakkur, Ruh kita sangat
bisa merasakannya. Merasakan apa yang dikabar oleh Nabi Muhammad Sholallohu
'alaihi wasallam :
"Apabila datang awal malam dari bulan Romadhon, setan-setan
dan jin-jin yang sangat jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup tidak ada
satu pintupun yang terbuka, sedangkan pintu-pintu surga dibuka tidak ada satu
pintupun yang ditutup. Dan PENYERU menyerukan: ‘Wahai orang yang menginginkan
kebaikan kemarilah. Wahai orang-orang yang menginginkan kejelekan tahanlah.’
Dan Alloh memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu
terjadi pada setiap malam.”
(HR. At-Tirmidzi)
Para penyeru dalam hadits tersebut adalah malaikat-malaikat Alloh
Ta'ala dan mahluk-mahlukNya yang lain, di alam semesta.
Kita tak akan bisa mendengarnya lewat telinga.
Frekuensi seruan itu ada pada saluran hati yang siap, suci, dzikir,
yakin dan bertafakkur. Di detik malam pertama.
Kosongkan urusan sejak ashar. Mandi dan berwudhu. Pakai pakain
terbaiknya. Gelar sajadah bersama keluarga. Panjangkan dzikir disana. Tidak ada
cara yang paling tepat. Untuk menemui bulan paling Mulia. Kecuali dengan cara
yang juga mulia. Berdzikir...
Beristighfar... menyambut detik2 adzan Maghrib tiba...
Wallahu a'lam bish-shawab.
Kita tinggkatkan terus ibadah kita kpd Alloh Ta'ala.
Semoga pandemi covid ini segera berlalu.
Semoga kita semua sekeluarga sehat dzohir bathin. Dalam lindungan
dan Rahmat Alloh Subhanahu wata'ala.
.Robbana Taqobbal Minna
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Comments
Post a Comment